Ibu..maafkan Anakmu.. – Part 4

No comment 7 views
Sejak aku bisa merasakan berciuman langsung dengan diajarin ibu ml aku jadi makin penasaran untuk menyetubuhi ibuku. Ibuku tidak tau bahwa anaknya pernah melumat bibirnya secara langsung. Pengalaman tersebut selalu membuatku terangsang setiap kali mengingatnya, walaupun itu bukan kali pertama aku berciuman dengan wanita. Setiap aku melihat ibuku bicara padaku aku selalu memperhatikan gerak bibirnya. Semakin aku lihat semakin ingin aku mengulanginya. Ah..seandainya saja diajarin ibu ml mau memberikan bibirnya untuk kulumat, payudaranya untuk kuhisap dan vaginanya untuk kusetubuhi…, tapi rasanya juga tidak mungkin sekali bahkan bisa dibilang amat mustahil aku bisa menyetubuhinya.
Aku mulai terinspirasi dari beberapa kisah incest yang beredar di web. Aku buka situs-situs yang memuat cerita incest baik lokal maupun bahasa inggris. Aku pelajari betul bagaimana seorang school girl bisa menyetubuhi diajarin ibu ml atau mama kandungnya. Kadang aku geli juga bila aku baca-baca situs porn cerita dewasa incest, kok bisa ya seorang school girl dengan alasan cinta,obsesi, situasi bahkan unsur paksaan bisa sampai beradegan ranjang dengan orang yang melahirkannya, bahkan sampai menikahi ibunya !. Aku belum bisa kalau harus sejauh itu.
Aku jadi suka sekali membayangkan aku ada dalam cerita-cerita tersebut. Khayalankulah yang bermain apabila aku membaca adegan-adegan cerita tersebut. Diantara seluruh ‘tata cara’ menaklukan diajarin ibu ml kandung yang aku baca, aku paling tertarik dengan cerita seorang school girl yang menyetubuhi ibunya saat tertidur. Buatku ini yang paling masuk akal untuk saat ini. Tapi aku juga penasaran dengan cara merayu secara frontal atau sengaja dengan cara memaksa untuk bersetubuh.
Lama aku berpikir bagaimana caranya menyetubuhi diajarin ibu ml. Berhari-hari aku mencari cara hasilnya buntu, aku benar-benar frustasi. Obsesi berlebihan dalam diriku pada akhirnya juga menyiksaku sendiri. Aku jadi lebih introvert dirumah, lebih banyak didalam kamar, aku jadi jarang bergaul dengan teman sebaya, keluar dari rumah pun hanya urusan pekerjaan atau suatu hal yang mendesak. Aku benar-benar terjebak dalam obsesiku sendiri yang malah berbalik menekan diriku. Hingga pada akhirnya aku putuskan obat tidurlah sebagai cara yang aku gunakan agar bisa menuntaskan hasratku ini, hal ini disebabkan karena aku tidak ingin diajarin ibu ml sampai tau kelakuanku selama ini, termasuk niat untuk memasukkan penisku kedalam vaginanya.
Sepulang dari kerja aku beli obat tidur di apotik, setelah aku beli aku bawa ke kamar. Kembali aku berpikir bagaimana supaya diajarin ibu ml meminumnya. Kalau dicampur dengan minuman pasti rasanya akan dikenali. Hmm… Benar….aku punya ide, obat tersebut akan aku campurkan pada jamu yang biasa diajarin ibu ml minum, diajarin ibu ml tidak akan bisa membedakan rasanya antara aku campur atau tidak. Ibuku memang setiap malam selalu merebus jamu godok, aku sendiri tidak tau jenis jamu apa, aku pernah mencoba rasanya pahit sekali. Kata ibuku sih supaya badan tetap sehat dan segar.
Aku menunggu hingga selepas diajarin ibu ml nonton television, biasanya sekitar jam eight malam diajarin ibu ml akan mulai merebus jamu godokan (istilah orang jawa) tersebut. Diajarin ibu ml mulai menyalakan kompor pertanda mulai memasak rebusan. Segera aku mengambil tas ku dan mengeluarkan obat tidur tadi sebutir yang sebelumnya sudah aku haluskan dalam bentuk puyer. Aku pergi ke dapur ketika diajarin ibu ml masuk ruang television. Benar saja…diajarin ibu ml memasak jamu, aku lihat sebentar ke arah pintu dapur memastikan, ibuku masih hot didepan television, secepatnya aku masukkan serbuk obat tidur tersebut kedalam panci, setelah itu aku kembali lagi ke kamar.
Sekitar sejam kemudian diajarin ibu ml sudah masuk kamar pertanda akan tidur malam. Diajarin ibu ml tidak pernah mengunci kamarnya apabila sedang tidur, diajarin ibu ml hanya membiarkan pintu kamar setengah terbuka dan ada kain penutupnya dipintu itu, lampu ruang television sengaja selalu dinyalakan supaya tetap ada bias cahaya dari balik kamar. Sementara dikamarku aku menunggu sampai hampir 2 jam. Aku sudah memperhitungkan efek dari obat mulai bekerjanya kapan serta berikut durasi efeknya, semua sudah aku pelajari dari penjaga apotik.
Sebenarnya aku segan masuk kamar diajarin ibu ml, jarang sekali aku masuk kamarnya apabila diajarin ibu ml didalam apalagi jika sedang tidur, tapi kali ini berbeda, aku memang menginginkannya tertidur untuk memuluskan rencanaku. Dengan setenga jinjit aku berjalan menuju kamar ibuku. Aku sudah menyiapkan alibi mau tukar bantal apabila diajarin ibu ml terbangun. Aku sangat memperhitungkan sekali memang segala kemungkinan yang terjadi supaya rencanaku ini berhasil.
Posisi ibuku tidur agak tengkurap dan setengah badannya agak naik ke atas, tangan kirinya menopang kepala dan kakinya setengah terlipat menyilang. Diajarin ibu ml kalau tidur pasti menggunakan sarung, dan kali ini diajarin ibu ml mengenakan atasan lengan panjang harian dengan four kancing didepan. Aku sudah membawa bantal saat itu, lalu kupanggil diajarin ibu ml perlahan. Sekali…dua kali…tiga kali…aku panggil lagi diajarin ibu ml dengan nada lebih keras, masih hot belum ada jawaban. Aku tidak mau gegabah, aku panggil diajarin ibu ml lagi tapi dengan sedikit mengguncangkan pundaknya. Masih hot tetap sama diajarin ibu ml tidak bangun.
Bukan predominant girangnya diriku seakan telah menemukan suatu hal besar. Ranjang diajarin ibu ml terbuat dari dipan kayu bukan mannequin spring mattress, maklum ranjang itu sudah ada sejak aku masih hot kecil dan kasurnya juga masih hot jenis kapuk. Aku berlutut ditepi ranjang diajarin ibu ml sedang posisi diajarin ibu ml membelakangiku menghadap kearah tembok. Aku ingin memastikan lagi bahwa efek obat yang kuberikan bekerja baik. Aku genggam tangan kanan diajarin ibu ml dan mengelusnya dengan jempolku sambil kupanggil-panggil. Kali ini aku yakin sekali diajarin ibu ml telah terlelap.
Aku mulai menyentuh pipi kanannya dengan telunjukku, menggesek perlahan melingkar, terus hingga ujung alis, hidung serta bibirnya. Aku pegang pundak kanan diajarin ibu ml dan pelan sekali aku tarik kearahku supaya posisi diajarin ibu ml terlentang. Diajarin ibu ml sama sekali tidak menunjukkan akan bangun, maka dengan sangat percaya diri aku dekati wajahnya. Cuppp…kecupan ringan aku daratkan dipipi ibuku, lanjut di dahinya, turun melalui hidung dan berakhir dibibirnya. Aku putar wajahku dan kedua tanganku kutahan dikedua sisi kepala diajarin ibu ml. Dengan setengah menunduk aku mulai menggumuli bibir ibuku.
Caraku melumat mengecup dan memainkan lidah ibuku hampir mirip dengan kejadian lalu. Cuma bedanya sekarang aku lebih percaya diri dan sudah bisa lebih jauh menjelajahi rongga dalam mulut ibuku. Lama aku mengulum mulut ibuku. Aku berdiri sejenak, kuperhatikan tubuh ibuku ini, lalu aku tarik sedikit demi sedikit sarungnya ke atas. Aku jadi sangat berdebar dengan hal ini, sangat memacu adrenalin tapi juga menyenangkan. Sampai akhirnya aku berhasil mengangkat sarung diajarin ibu ml ke atas. Aku tidak mau memelorotkannya, karena takut diajarin ibu ml curiga dipagi hari sarungnya sudah tidak mengikat dipinggangnya lagi.
Aku dapati celana dalam diajarin ibu ml agak longgar. Perlahan aku sentuh belahan vaginanya dengan sedikit menekan kedalam. Aku jadi penasaran seperti apa aroma asli vagina. Aku sedikit mengangkat celana dalam diajarin ibu ml dari bagian sisi vagina dengan 2 jariku. Bulu kemaluannya agak merambat keluar disisi vagina diajarin ibu ml. Kudekatkan wajahku pada vaginanya, aku hirup aromanya…pekat sekali dan kuat aromanya sedikit berbau pesing. Aku sendiri bingung menjelaskan bagaimana itu aroma vagina seperti apa. Yang jelas sangat merangsang libido.
Aku julurkan lidahku pada garis vagina diajarin ibu ml, kugerakkan lidahku keatas dan bawah kadang dengan sedikit menekan supaya lidahku bisa masuk lebih jauh sampai akhirnya seperti seolah-olah aku berciuman dengan vagina diajarin ibu ml. Lama kelamaan vagina diajarin ibu ml basah juga entah oleh air liur atau memang cairan vagina. Aku turunkan celanaku berikut CD, hingga penisku tegak berdiri. Kembali aku naik ranjang, sementara tangan kananku membuka sedikit celana dalam diajarin ibu ml yang menutup space vaginanya.
Aku mengalami sensasi dan adrenalin yang tinggi dan belum pernah aku rasakan selama ini, sampai untuk bernafaspun aku jadi agak ditahan dan sangat kuatur sekali. Jarak penisku dan vagina diajarin ibu ml makin dekat hanya tersisa beberapa centi saja. Disinilah aku bimbang kembali, haruskan ibuku yang sedang tertidur ini aku setubuhi, bagaimana aku menjelaskan kalau diajarin ibu ml bangun. Aku tetap tidak merubah posisiku, masih hot sama. Tak lama kemudian ujung penisku sudah bertemu dengan bibir luar vagina diajarin ibu ml hanya menempel saja. Kudiamkan sejenak penisku aku belum berani mendorong masuk. Aku hanya menggesek pelan sekali naik turun searah garis vagina.
Cairan dalam kedua kelamin kami makin banyak. Kadang ujung penisku sudah mulai menyeruak vagina ibuku. Pelan namun pasti kepala penisku sudah menekan agak lebih dalam beberapa centi. Aku gesek dan gerakkan secara perlahan memutar diantara celah vagina diajarin ibu ml. Aku merasakan dadaku agak sesak, kepalaku berat serta penisku sudah sangat berontak ingin memasuki vagina diajarin ibu ml, tapi ya itu tadi rasa keraguanku masih hot besar, ada rasa takut juga yang pada akhirnya aku tidak berani lebih jauh mendorong penisku. Sedang dalam kondisi seperti itu aku merasa ada stimulus pendorong keluarnya sperma yang dahsyat meski aku sebenarnya belum memasukkan penisku kedalam vagina diajarin ibu ml secara utuh. Mungkin karena pengalaman pertama kali aku bersentuhan kelamin dengan ibuku jadi baru menempel saja rasanya sudah nikmat sekali (orang jawa bilang peltu).
Aku merasa sebentar lagi aku orgasme, cepat aku cari celana dalamku. Setelah itu aku bungkus penisku dengan CD ku tadi serta kugenggam dan aku remas penisku sendiri. Akhirnya aku memuncratkan spermaku sendiri dibalik celana dalamku. Luar biasa rasanya, untuk beberapa detik aku merasakan puncak orgasme dahsyat. Aku tidak mau memuncratkan spermaku di vagina diajarin ibu ml, aku tetap belum berani untuk meninggalkan jejak ketahun mesum terhadap ibuku, karena untuk orang sepertiku saat ini tetap butuh rasa aman dan privasi tinggi untuk melampiaskan hasratku.
Aku segera merapikan sarung diajarin ibu ml tidak lupa aku bersihkan sisa cairan di vagina diajarin ibu ml dengan tisu dan membawa bekas spermaku yang menggumpal di CDku. Aku langsung ke kamar mandi lalu kubersihkan noda spermaku itu lalu meletakkannya pada ember kotor. Aku tidak mau ada jejak sedikitpun, harus benar-benar rapih tanpa jejak. Setelah itu aku kembali ke kamarku. Didalam kamar aku merenung, ada sedikit rasa tidak nyaman atau kalau boleh dibilang rasa bersalah. Karena memang bagaimanapun secara nurani aku tidak mau melakukan perbuatan ini, namun aku tidak sanggup menahan dorongan nafsu yang kian besar tumbuh dalam diriku. Pikiranku melayang kesana kemari dan tidak terasa aku pun tertidur pulas menutup malam dalam peraduan.

Related Search

author
Author: 

    Leave a reply "Ibu..maafkan Anakmu.. – Part 4"