Search Results for: birth clubs babycenter

News: Chasing Charlie Chase

JAV Model Profile – Aino Tsubaki

AV Model Profile – Aino Tsubaki

Name : Aino Tsubaki

Born : 11/15/1994

Blood Type :

Breast : 85 cm

Waist : 59 cm

Hips : 86 cm

Height : cm

Model’s Style : Cute, Beautiful Breasts

Collection Aino Tsubaki Porn Videos 3gp Mp4 HD : [ Click Here ]

Video bokep indo baru crot ditetek tante amoy

Judul : Video bokep indo baru crot ditetek tante amoy

Keyword : Bius Ibu Dulu Nak, Kakaek, Mertua Perkosa Menantu, Video Ngentot Ponakan, Masturbation, Dipaksa, Maincewe Com bokep Jepang Istri Dan Me, Bokep Jepang Istri, Rei Mizuna, Ngentot Ibu Tiri Cantik Lagi Tidur, Kakek, Bokep Lagi Tidur Di Entot, Pemerkosaan, Japan Old Man, Shigeo Tokuda, Di Perkosa, Bokepid, Bokep Ibu Tiri Vs Anak
Format : Mp4
Link : |

News: Red Girl

Tragedi Pemerkosaan Yang Kuinginkan Lagi


Cerita Sex Pemerkosaan Menggairahkan |
14 Februari 20**. Saat itu aku baru berusia 18 tahun, sedangkan ciciku
Jessica berusia 20 tahun. Malam itu, pacarku yang bernama Jeff
mengunjungi rumah kami, sekedar untuk memberikanku hadiah Valentine.
Kami sudah berpacaran selama 5 tahun, tapi jangankan melakukan hubungan
intim, berciuman saja sangat tabu bagi budaya bangsa kami. Namun untuk
merayakan hari Valentine ke-5 kami, aku berencana untuk memberikan Jeff
hadiah spesial. Kuajak dia ke kamarku supaya tidak terlihat oleh Papa
dan Mama. Kuizinkan dia membelai punggungku dengan lembut, sementara
mukanya semakin mendekat ke mukaku. Sangkaku, hari itu akan menjadi
pertama kalinya Jeff mengecup bibirku.

“Braakkk!� tiba-tiba momen yang indah
itu terusik oleh suara ribut dari luar kamarku. Belum sempat kami
mencari tahu apa yang terjadi, tiba-tiba tiga orang tentara negeri Utara
mendobrak pintu kamarku. Dengan sangat sigap mereka mencengkeram kedua
tanganku, lalu menyeret aku ke ruang tamu. Jeff yang berusaha
melindungiku tidak bisa berbuat apa-apa setelah menerima pukulan keras
pada tengkuknya. Di ruang tamu, empat orang tentara lainnya sedang
mengikat Papa & Mama di sofa, sementara dua di antara mereka sedang
meraba-raba tubuh Jessica di depan Papa & Mama. Kemudian tubuhku
didorong ke tengah ruang tamu, sementara mereka mengikat Jeff yang
setengah sadar di sebelah Papa & Mama. Mereka bertiga kemudian
dipaksa untuk menonton kedua anak gadis (dan kekasih) mereka yang sedang
digerayangi oleh para tentara. Malam itu kami hanya menggunakan tank
top dan hot pants, sehingga kulit kami yang putih mulus pun nampaknya
menambah nafsu para tentara.

“Wih liat boss, yang ini susunya kenyal banget!� ujar salah seorang tentara sambil meremas payudara Jessica.
“Tapi kalo muka sih, adeknya lebih imut! Tetenya juga gak kalah lah,� sahut temannya yang sedang melucuti kaosku dengan kasar.
“Jangannn..tolonggg jangan sentuh kami!� pekik Jessica.

Mereka menelanjangi kami hingga tidak
tersisa sehelai benang pun, disambut dengan permohonan dari Papa &
Mama untuk menghentikan aksi tersebut, yang tentu saja tidak digubris.
Pasti sungguh memilukan bagi Papa & Mama untuk melihat anak-anak
perempuan yang mereka besarkan diperlakukan secara tidak manusiawi di
depan mata mereka sendiri. Aku & Jessica kemudian digiring untuk
masuk ke dalam truk besar yang telah berisikan belasan gadis yang
telanjang bulat, kebanyakan sambil menangis ketakutan.

Truk itu membawa kami ke kamp tawanan di
Negeri Utara. Sesampainya di sana, kami disuruh berbaris telanjang
bulat layaknya sedang upacara. Sang komandan lalu datang dan berjalan di
antara barisan-barisan itu, sambil menatapi gadis-gadis telanjang
tersebut satu per satu. Mereka yang parasnya tidak begitu memuaskan sang
komandan kemudian dipisahkan ke kelompok lain.

“Jess, jangan pergi, temenin aku di
sini!� seruku saat sang komandan menarik lengan Jessica untuk
memisahkannya ke kelompok lain. Jessica berusaha untuk memberontak,
namun tentu saja ia tidak sanggup melawan sang komandan, apalagi tempat
itu dipenuhi oleh para tentara bersenjata yang siap menghabisi nyawanya
kapan saja.

“Cici janji akan baik-baik saja. Kamu
juga janji ya, Catherine. Kita pasti ketemu lagi,� ujar Jessica seraya
digiring sang komandan untuk meninggalkan tempatku. Kami hanya dapat
meneteskan air mata, karena kami tahu kami tidak akan baik-baik saja,
bahkan belum tentu kami bisa berjumpa kembali.

Di kamp tempat aku ditaruh, para penjaga
mengatakan bahwa nasib kami lebih baik daripada nasib gadis-gadis yang
dipisahkan sebelumnya, termasuk ciciku. Sang komandan melarang para
penjaga kamp untuk memerawani kami, karena dapat menurunkan harga
jualnya. Kami malah dirawat supaya tetap cantik dan menawan saat dijual
kepada peminatnya. Di situ, kami diajarkan teori untuk memuaskan hasrat
seks para lelaki, agar kelak mereka dapat menyenangkan majikan. Kami
juga diajarkan untuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga. Yang
paling utama, dalam pikiran kami ditanamkan bahwa kami adalah budak yang
tidak lagi memiliki hak, dan kami harus menuruti kemauan para majikan
kami, yang berhak untuk melakukan apa saja kepada kami.

Pelatihan itu memakan waktu selama satu
bulan. Setelah itu, satu per satu gadis di kamp dipaksa untuk berpose
telanjang, kemudian difoto. Foto-foto kami kemudian ditawarkan kepada
para calon pembeli, yang mayoritas adalah bangsawan dan pejabat di
negeri Utara. Dalam waktu sekejap, para gadis itu pun laku terjual
dengan harga yang cukup tinggi. Bahkan beberapa gadis yang diminati oleh
lebih dari satu orang, terpaksa harus dilelang untuk mendapatkan harga
tertinggi. Begitu pula dengan diriku, aku akhirnya dijual sebagai budak
kepada seorang bangsawan dengan harga yang sangat mahal, setelah proses
lelang yang cukup sengit, karena (kata mereka) kecantikanku memikat
banyak penawar.

Sebelum diantarkan ke pemilik baruku,
tubuhku dibersihkan dan diberi parfum. Rambutku yang panjang sepunggung
dirapikan. Rambut di ketiak dan kemaluanku dicukur hingga bersih,
sehingga kini vaginaku (menurut komentar mereka) terlihat seperti garis
tipis di atas gundukan daging yang putih mulus. Setelah itu, kedua
tanganku diposisikan di belakang punggung, lalu tubuhku diikat dengan
tali yang melintasi area di sekeliling payudara, punggung, serta
selangkangan. Hanya kakiku yang tidak diikat supaya aku masih dapat
berjalan.

Sebelum meninggalkan kamp tawanan, sang
komandan memperlihatkan sebuah amplop kepadaku, lalu salah satu penjaga
membukakan amplop itu dan menunjukkan isinya kepadku. Alangkah
terkejutnya diriku saat melihat kertas yang dipegang oleh penjaga
tersebut, yang ternyata isinya adalah foto ciciku, Jessica. Di foto itu
terlihat Jessica dalam posisi mengangkang di atas lantai semen, dengan
sebatang sapu yang menancap di vaginanya. Bahkan sekilas nampak daerah
kemaluannya itu sobek dari vagina sampai ke anusnya. Selangkangannya
bersimbah darah dengan jumlah yang sangat banyak. Sekujur tubuhnya
dipenuhi dengan luka memar akibat dipukuli dengan benda tumpul, terutama
di payudara dan pahanya. Puting susunya terlihat sobek dan di
sekitarnya terdapat luka seperti bekas sundutan rokok. Kedua matanya
terpejam, mungkin ia sudah tidak sadarkan diri, atau mungkin sudah
meregang nyawanya. Aku hanya dapat menangis sejadi-jadinya saat
mengetahui nasib ciciku yang malang. Sang komandan lalu mengeluarkan
secarik kertas lusuh dari amplop itu, lalu memperlihatkannya kepadaku.

Dear Catherine,
Mungkin waktu kamu baca surat ini, cici udah nggak ada lagi. Setiap hari
mereka memperlakukan cici seperti budak seks, cici juga gak tau sampe
berapa lama lagi cici bisa bertahan. Tapi cici mau kamu janji untuk
terus bertahan. Demi orang tua kita, Cath. Cici berharap supaya nasib
kamu gak seburuk cici. Satu lagi, cici mau kamu tau kalo cici sayang
banget sama kamu. Thanks buat semua yang udah kamu lakuin buat cici
selama kita masih bersama.With love,

Surat itu membuat tangisanku semakin
keras. Ingin rasanya aku menghajar mereka semua, namun apa yang dapat
aku perbuat dalam keadaan seperti ini? Masih dalam keadaan berlinang air
mata, si penjaga itu menarik tali yang mengikat tubuhku, lalu
menyeretku keluar menuju sebuah mobil box. Mobil itu membawaku ke rumah
sang pembeli, yaitu seorang pengusaha yang cukup dipandang di negeri
Utara. Sesampainya di sana, aku diturunkan dari mobil itu dan digiring
menuju pintu rumah.

“Selamat siang. Oh, kamu yang namanya Catherine?� tanya sang tuan rumah.
“Iya Om, eh maaf, iya Tuan,� jawabku, sesuai dengan yang diajarkan selama di kamp.

Setelah menuntaskan proses penerimaan
dan sebagainya, Tuan menggiringku masuk ke rumahnya yang cukup besar,
lalu memperkenalkanku kepada istri dan anaknya.

“Bunda, perkenalkan, budak ini namanya
Catherine. Mulai hari ini Catherine akan ngerjain semua pekerjaan rumah.
Kamu berhak nyuruh dia ngapain saja. Dan kalau dia tidak patuh, kamu
berhak ngehukum dia. Catherine, panggil dia Nyonya.�
“Selamat siang, Nyonya,� sahutku, sambil berlutut di lantai.

Tuan lalu memanggil anak lelakinya yang
berusia 19 tahun. Ia nampaknya terperanjat melihat sosok gadis cantik
yang telanjang dan terikat di depannya, sedang berlutut di hadapan kedua
orangtuanya.

“Nak, ini budak baru Ayah. Tenang aja,
kamu boleh ambil dia sebagai istri kamu. Tapi bukan berarti kamu tidak
boleh menikah lagi. Ingat, dia hanya budak, tentu tidak jadi masalah.
Catherine, panggil anak saya Tuan Muda.�

Aku agak kaget mendengar perkataan itu.
Aku merasa benar-benar terhina saat dianggap sebagai seonggok daging
yang tidak punya hak dan masa depan. Namun di sisi lain, sejujurnya aku
mengagumi sosok Tuan Muda yang cukup tampan. Tuan Muda tersenyum saat
melihat tatapan mataku yang memancarkan kepasrahan.

“Catherine, karena mulai sekarang kamu jadi milik kita, saya akan kasih tanda kepemilikan,� kata Tuan.

Beliau lalu mengambil sebuah kotak yang
berisi anting yang berbentuk lingkaran seperti cincin, lalu berlutut di
depanku. Aku tahu apa yang akan terjadi, sehingga aku berusaha berdiri
untuk menghindar, namun Nyonya memegangi bahuku sehingga usahaku untuk
berdiri pun gagal. Tuan lalu mengambil anting dari kotak itu, lalu
mendekatkan ujungnya yang tajam ke puting susuku.

“Satu… dua… tiga!� Tuan memberikan
aba-aba sementara aku memejamkan mata erat-erat, berusaha untuk menahan
rasa sakit ketika ujung anting yang tajam itu menembus puting susuku.
Beberapa tetes darah mengalir dari puting susuku yang sebelah kanan, dan
akupun mengetahui bahwa putingku yang sebelah kiri akan mengalami
penderitaan serupa. Dengan cara yang sama, Tuan menindik puting susuku
yang sebelah kiri, lalu menarik-narik kedua anting itu sehingga aku
meringis kesakitan.

“Belum selesai, Cath. Masih ada satu
lagi,� ujar Tuan. Ia lalu membungkuk hingga kini mukanya berada di depan
kemaluanku yang terlihat seperti “garis tipis di atas bukit kecil yang
putih mulus�. Kemudian ia menggunakan jarinya untuk membuka vaginaku
sehingga bagian dalamnya yang berwarna merah muda terlihat. Dengan
jarinya, Tuan menjepit klitorisku, sehingga aku mengejang karena rasa
geli, baru kali itu daerah sensitifku disentuh oleh orang lain.

“Jangan, tolong jangan di situ, Tuan,� pintaku, saat menyadari bahwa daging kecil yang sensitif itu akan ditindik juga.

Tuan tidak memperdulikan permohonanku,
lalu menancapkan sebuah anting hingga menembus klitorisku. Aku yang
sedari tadi menahan jeritannya pun tidak sanggup lagi, sehingga aku
menjerit keras-keras akibat rasa sakit pada kemaluanku.

“Selesai. Sekarang kamu resmi jadi milik
kita. Bunda, aku serahkan dia buat kamu. Kamu ajarin tugas-tugasnya di
rumah ini,� kata Tuan, sambil membuka tali-tali yang mengikat tubuhku

Hari itu, aku diajarkan untuk
mengerjakan berbagai pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel,
membersihkan perabot, dan macam-macam tugas lainnya yang biasa dilakukan
oleh pembantu rumah tangga. Sungguh miris rasanya, karena semasa aku
tinggal bersama keluargaku, kami memiliki pembantu rumah tangga yang
mengerjakan semuanya itu. Kini aku berada di posisi sebagai pembantu,
namun tanpa bayaran, bahkan tidak dianggap sebagai manusia. Satu hal
yang membuat aku bertanya-tanya, mengapa Nyonya tidak risih saat
suaminya membawa seorang gadis telanjang bulat ke rumahnya? Atau paling
tidak menyuruh diriku untuk menggunakan pakaian untuk menutupi
ketelanjanganku? Sekian bejatnya kah moral di negeri itu, sehingga
seorang wanita pun tidak risih saat melihat seorang gadis telanjang
berkeliaran di rumahnya?

Malam harinya, Tuan mengajakku untuk
turun ke ruang bawah tanah di rumah itu. Aku kaget bukan main saat
melihat isi ruangan itu. Ruangan yang dinding dan lantainya hanya
dilapisi semen itu diterangi oleh sebuah lampu kecil di tengah ruangan.
Di temboknya, terdapat rak yang berisi borgol, cambuk, tali, dan
alat-alat lainnya yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Di sudut
ruangan itu terdapat sebuah ranjang yang terbuat dari besi.

“Selamat datang di kamar barumu,
Catherine,� kata Tuan. Ia lalu menggandengku menuju ranjang, lalu
menyuruhku duduk sembari menunggu Tuan Muda turun ke ruangan itu.
“Nak, Ayah beri kamu kesempatan untuk menikmati budak ini terlebih dahulu. Supaya nanti dia mengandung anak kamu. Cucu Ayah..�

Orang tua macam apa ini, gumamku dalam
hati. Orang tua mana yang menyuruh anaknya yang masih muda untuk
menyetubuhi gadis yang baru dikenalnya hari itu. Namun aku bersyukur
karena aku tidak harus melayani nafsu pria tua di hadapanku ini,
melainkan seorang lelaki yang masih muda dan cukup tampan. Tuan Muda
lalu melepaskan seluruh pakaiannya dan naik ke atas ranjang, sementara
ayahnya mengeluarkan sebatang rokok, lalu duduk di kursi sambil menonton
adegan itu. Tuan Muda memainkan jari tangan kanannya di sekitar
kemaluanku, sementara tangan kirinya meremas payudaraku yang (katanya)
tidak terlalu besar, namun padat dan sekal.

“Sssshh.. pelan-pelan ya Tuan,� pintaku
yang dirundung oleh perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Tuan Muda menggunakan tiga jarinya untuk mengocok liang vaginaku dengan
cepat. Sementara itu bibirnya mulai melumat puting susuku, bahkan sampai
digigit dan ditarik dengan giginya. Tanpa aku sadari, penis yang
berukuran tidak terlalu besar itu mulai menembus masuk ke dalam
vaginaku.

“Akhhhh…� dalam cerita dewasa ini aku
merintih pelan saat merasakan keperawananku ditembus oleh penis Tuan
Muda, sehingga kedua tanganku mencengkeram seprei dengan kuat. Namun
rasa sakit itu segera tergantikan dengan rasa nikmat yang luar biasa.
Ditambah dengan penampilan Tuan Muda yang bertubuh atletis dan kulitnya
agak putih untuk ukuran orang negeri Utara, tanpa sadar aku mulai
merancau dalam kenikmatan, sehingga aku lupa bahwa aku sedang diperkosa.
Namun karena rasa malu dan gengsi, aku berusaha untuk menyembunyikan
rasa nikmat itu dan membungkam mulutku. Genjotan penis sang Tuan Muda
makin lama makin cepat, membuat anting di puting susuku bergoyang-goyang
dengan cepat. Tuan Muda lalu melumat bibirku yang mungil, sambil
membisikkan ke telingaku,

“Enak gak, sayang?�
“Uuukhh, i-iya, enak Tuan, eh, ja-jangan Tuan, akhh..� jawabku yang kesulitan untuk memutuskan perasaanku sendiri.
“Pssstt.. panggil gue Axel aja. Tapi jangan ketahuan bokap.�

Setelah beberapa menit, Axel
mencengkeram kedua payudaraku dengan keras, lalu penisnya menyemburkan
sperma ke dalam rahimku. Ketika Axel mencabut penisnya, darah
keperawanan bercampur dengan sperma mengalir keluar dari liang vaginaku
yang kecil. Aku merasa lega karena perkosaan itu ternyata tidak
semenyakitkan yang aku bayangkan sebelumnya, ditambah pemerkosanya yang
cukup ganteng dan lembut. Namun kelegaanku sirna ketika Axel turun dari
ranjang itu, lalu posisinya digantikan oleh ayahnya. Aku merinding saat
melihat sosok Tuan yang sudah telanjang. Perutnya yang buncit dan
berbulu membuatku jijik, apalagi penisnya yang jauh lebih besar
dibandingkan milik Axel. Perawakan Tuan tidak membuatku bernafsu sama
sekali, namun apa boleh buat, aku telah bersumpah untuk melayaninya,
atau aku akan menerima hukuman.

“Kamu semakin menggairahkan dalam
keadaan horny, Catherine. Dasar perempuan sundal. Sayang sekali aku gak
bisa perkosa memekmu itu. Kalau nanti kamu hamil, aku bingung itu anakku
atau cucuku. Jadi lebih baik aku coba lubang yang lain ya,� kata sang
Tuan. Mengetahui maksud bejatnya, aku menggelengkan kepalanya, namun
Tuan tetap memposisikan kedua kakiku hingga mengangkang, lalu
menempatkan kedua telapak kakiku di pundaknya. Tuan lalu menggunakan
kedua jempol tangannya untuk merekahkan lubang pantaku, kemudiakan
mengarahkan penisnya ke lubang yang sangat sempit itu.

“Aaaaaaaahhh sakitttt, Tuan, tolonggg
jangannnn!� jeritku saat merasakan anusku dimasuki oleh sebatang penis
raksasa, walaupun baru ujungnya yang masuk. Tuan lalu memaksakan
penisnya untuk mendobrak masuk ke dalam anusku, walaupun aku yakin Tuan
merasakan sedikit rasa perih pada penisnya ketika bergesekkan dengan
dinding anusku yang kering. Aku juga merasakan perih yang luar biasa,
serasa anusku akan sobek sebentar lagi. Setelah terbiasa, Tuan mulai
menggenjot anusku dengan sangat cepat, berbeda dengan perlakuan Axel
yang halus. Aku merasakan sakit yang luar biasa pada pantatku selama
lebih dari 15 menit, sebelum Tuan membalikkan tubuhku dan memposisikan
tubuhku hingga menungging.

“Plak! Plakk!� terdengar suara tamparan
yang berasal dari pertemuan tangan Tuan dengan bongkahan pantatku. Kedua
belah pantatku merasa sakit dan panas. Sambil meremas-remas pantatku,
Tuan kembali menyodokkan penisnya ke lubang pantatku, yang kusambut
dengan jeritan kesakitan lainnya. Setelah beberapa menit, akhirnya Tuan
menyemprotkan spermanya ke dalam liang duburku. Ia lalu mengeluarkan
penisnya yang kini berlumuran darah yang berasal dari bagian dalam
anusku yang terluka. Aku tetap meringkuk kesakitan sambil memegangi
pantatku, walaupun benda raksasa itu sudah tidak lagi berada di dalam
anusku, namun rasa perih yang tak tertahankan masih tersisa. Tuan
bangkit dari kasur itu dan menyuruhku untuk membersihkan penisnya dengan
lidahku. Dengan perasaan jijik, kukulum penis yang berlumuran sperma,
darah, dan kotoranku sendiri.

“Luar biasa budak ini, nggak sia-sia aku
kelurin duit banyak buat dia!� ujar sang Tuan kepada anaknya. Mereka
berdua lalu mengenakan kembai pakaiannya, lalu menaiki anak tangga untuk
keluar dari basement, meninggalkan diriku yang masih merintih kesakitan
akibat disodomi.

Aku sedang menyeterika pakaian ketika Nyonya tiba-tiba menepuk pundakku dengan keras.

“Kamu kira saya nggak tau apa yang terjadi semalam?� bentak Nyonya.
“Engg.. Ampun, Nyonya, s-saya…�
“Kamu nggak puas udah dapetin anak saya, sampe suami saya kamu embat
juga? Dasar pelacur brengsek!� omel Nyonya, sambil menampar pipiku
hingga meninggalkan bekas merah.
“Bukan begitu, Nyonya, saya dipaksa…�
“Sudah, jangan banyak alasan kamu.�

Nyonya lalu menyeretku menuju ruang bawah tanah tempat aku diperkosa semalam. Saat itu di rumah hanya ada Nyonya dan aku.
“Sekarang saya mau lihat kamu kayang di lantai,� ujar Nyonya.
“Buat apa, Nyonya?�
“Makin banyak kamu tanya, makin banyak hukuman yang kamu terima, bodoh!�

Takut akan ancaman Nyonya, aku pun
berjongkok, kemudian merentangkan badanku ke belakang, lalu memposisikan
kedua telapak tanganku di atas lantai, di sisi kepala. Pantatku
terangkat sekitar 20 cm dari lantai. Supaya badanku tidak jatuh ke
lantai, Nyonya mengikatkan tangan dan kakiku ke gelang besi yang menyatu
dengan lantai, yang memang sudah disiapkan atas keinginan Nyonya. Dalam
posisi seperti itu, payudaraku terlihat mencuat ke atas sehingga nampak
lebih besar dari aslinya. Daerah kewanitaanku terlihat jelas akibat
posisiku yang sedikit mengangkang. Kemudian Nyonya mengambil cambuk dari
rak. Cambuk itu terbuat dari kulit berwarna hitam, dan memiliki 9
hingga 10 cabang. Beliau menyentuhkan ujung cambuk itu ke mukaku yang
menatap dengan penuh ketakutan.

“Ini hukuman buat pelacur yang berani-beraninya menggoda suami saya,� ujar Nyonya.

Kemudian Nyonya mengangkangkan kakinya
sehingga tubuhnya tepat berada di atas kepalaku, lalu mengayunkan cambuk
itu ke arah vaginaku.

“Ctarrrr!�
“Aaaaaaakkkkhhhhhhh!� aku menjerit sekeras-kerasnya. Daerah kemaluanku
terasa sangat panas dan perih. Belum sempat rasa perih itu berkurang,
sebuah cambukan kembali mendarat di tempat yang sama.
“Aaaaaa a-ampunnnn, sakitttt!�
“Ctarrr!�
“Please stoooopppp… Nggak tahannn..�

Nyonya kemudian berpindah posisi ke samping tubuhku, lalu kembali mengayunkan cambuknya, kali ini ke arah payudarku.
“Ctarrrr!�
“Sssshhh….akhhh!� jeritanku yang kesakitan bercampur dengan isak tangis.
Pantatku yang tadi berada 20 cm dari lantai, kini terjatuh sehingga
tubuhku menyentuh lantai.

“Setiap kali pantat montokmu itu
menyentuh lantai, saya akan tambahkan 10 cambukan buat kamu, Catherine,�
ujar Nyonya sambil tersenyum lebar. Aku pun segera mengangkat pantatku
dari lantai, dan dalam sekejap sebuah cambukan kembali mendarat di
tubuhku, kali ini di lekukan pinggul, kemudian di paha. Setiap kali
tubuhku terasa akan jatuh ke lantai akibat rasa sakit yang aku alami,
aku cepat-cepat mengangkat pantat sejauh mungkin dari lantai, dan
secepat itu pula cambukan demi cambukan kembali melukai tubuhku. Lima
belas menit itu terasa seperti seabad bagiku yang tidak henti-hentinya
menangis dan menjerit setiap kali jalinan cambuk itu menghantam tubuhku.
Nyonya tersenyum puas saat melihat penderitaan budaknya ini, seakan ia
memiliki kendali penuh atas nasib gadis cantik di hadapannya. Saat
itulah aku menyadari bahwa majikanku itu memiliki kelainan seks, yaitu
suka menyiksa wanita lain.

Rasa sakit yang terus-menerus aku
rasakan membuatku tidak sadar kalau Nyonya sudah berhenti mencambuki
tubuhku. Kini beliau sedang menghampiri rak di dinding ruangan itu untuk
mengambil sesuatu, yang ternyata adalah sebuah vibrator berwarna putih
yang bentuknya seperti mikrofon untuk karaoke, dengan diameter kepalanya
sekitar 6 cm. Selain itu, Nyonya juga mengambil sebuah bungkusan yang
berisi pil, serta sebuah baskom. Kemudian Nyonya menghampiri diriku yang
masih sesenggukan, lalu melepaskan ikatan pada tangan dan kakiku. Aku
disuruh untuk berlutut dengan pinggul yang terangkat, sehingga kini
kepalaku berada sejajar dengan pinggul Nyonya. Kedua tanganku kemudian
diangkat ke atas dan diikatkan dengan tali yang tersambung ke katrol
yang menempel di langit-langit ruangan. Ketekku yang mulus tanpa sehelai
rambut pun terlihat dengan jelas. Nyonya kemudian memasukkan pil-pil
yang tadi diambilnya ke dalam muluku, lalu memaksaku menelannya tanpa
diberi tahu untuk apa pil tersebut. Lalu Nyonya berlutut di depanku,
mengambil vibrator yang telah ia siapkan, dan menempelkan kepala
vibrator itu ke atas selangkangaku. Akumerasa geli akibat getaran
vibrator itu. Vibrator tersebut kemudian digerakan semakin lama semakin
mendekat ke bibir vaginaku, hingga akhirnya menyentuh klitorisku yang
ditindik dengan anting. Ransangan pada klitorisku membuat diriku
melonjak kegelian, serta mulutku mengeluarkan desahan pelan. Nyonya
memainkan vibrator itu di sekujur vaginaku, bahkan beliau
menyodok-nyodokkannya ke bagian dalam vaginaku, sehingga pinggulku
berguncang-guncang dengan hebat. Perlahan tapi pasti, ransangan pada
vaginaku mengantarkanku hingga mencapai orgasme. Cairan putih meleleh
keluar dari vaginaku, mengalir melewati pahaku menuju ke lantai.

“Dasar pelacur murahan, cepat sekali
kamu terangsang,� ejek Nyonya. “Sekarang karena kamu sudah mengotori
lantai ini dengan cairan dari memekmu , kamu harus menerima hukuman
lagi.� Aku mengira akan menerima cambukan-cambukan lagi, namun ternyata
aku salah. Setelah beberapa saat, aku merasakan dorongan yang sangat
kuat untuk kencing, namun aku berusaha untuk menahannya. Rupanya Nyonya
mengetahui hal tersebut, karena ternyata pil yang tadi diberikan tadi
adalah pil untuk menstimulasi keluarnya urin dalam jumlah yang banyak.
Melihat gelagatku tersebut, Nyonya mendekatkan baskom yang telah ia
siapkan ke dekat lututku. Benar saja, tidak lama kemudian dari
kemaluanku menyembur cairan kekuningan yang langsung ditampung oleh
baskom di bawahnya. Air kencingku hampir memenuhi baskom yang cukup
besar itu, sehingga bau pesing mulai tercium di ruangan itu. Setelah
kencingku habis, Nyonya mengangkat baskom itu dari lantai, lalu
mendekatkannya ke wajahku.

“Saya terlalu malas untuk memindahkan
baskom ini ke toilet di atas. Jadi sebaiknya kamu habiskan isinya,
Catherine,� perintah sang Nyonya. Aku merasa enggan untuk meminum urinku
sendiri, namun Nyonya menempelkan mulut baskom itu ke bibirku, sehingga
isinya mulai mengalir membasahi mulut dan daguku. Kemudian Nyonya
menekan pipiku dan memaksaku untuk membuka mulut. Karena takut akan
hukuman lebih lanjut, aku akhirnya rela membuka mulutnya. Dengan penuh
rasa jijik dan sambil menahan nafas, aku menegak air kencingku sendiri
yang mengalir dari baskom itu ke kerongkonganku. Air kencing itu sampai
luber keluar dari mulutku yang mungil, mengalir menuju dagu, kemudian
membasahi lantai. Setelah setengah baskom itu habis kutenggak, Nyonya
menarik baskom itu dari mulutku, lalu menuangkan sisanya ke atas
kepalaku. Rambutku basah oleh cairan berbau pesing itu, demikian juga
dengan sekujur muka dan sebagian badanku. Aku merasakan jijik yang
teramat sangat, belum pernah terpikir sebelumnya bahwa aku akan
dimandikan dengan air kencingku sendiri. Melihat ekspresiku, sang Nyonya
tertawa kesenangan karena telah berhasil menyalurkan hasratnya yang
selama ini hanya ia fantasikan dalam benaknya.

Seolah tidak puas menyiksa budaknya, Nyonya kemudian mengambil kembali cambuknya, lalu mengelus-elus punggung dan pantatku.

“Sayang nih, bagian belakang kamu masih bersih. Saya warnai merah ya,� ujar Nyonya.

Beliau kemudian berdiri menjauh dari
tubuhku, lalu mengayunkan cambuknya ke punggungku yang agak basah karena
terkena air kencing tadi

“Aaaaaakhhh sudah Nyonya, hentikan,� ucapku dengan pelan, lelah akan perlakuan kejam yang kuterima selama hari itu.

Tentu saja Nyonya belum puas sebelum
punggung, pantat, dan pahaku dihiasi oleh garis-garis merah yang
menandakan kesakitan bagiku, namun melambangkan kemenangan bagi Nyonya.
Cambukan demi cambukan mendarat di bagian belakang tubuhku. Jeritanku
yang terdengar menyayat hari terus terdengar dari ruang bawah tanah itu
sampai akhirnya hari mulai sore. Nyonya melepaskan ikatan pada tanganku,
kemudian menyuruh aku berdiri, setelah itu kami berdua menaiki tangga
untuk meninggalkan ruangan tersebut.

“Awas kalau kamu menggoda suami saya
lagi. Nih, untuk mencegah suami saya supaya nafsu sama kamu, mulai
sekarang pakai celana dalam!� ujar Nyonya, sambil menyerahkan celana
dalam berwarna putih kepadaku. Aku pun segera memakai celana dalam
tersebut, namun ternyata ukurannya agak sempit, sehingga gundukan vagina
dan belahan pantatku masih dapat terlihat dengan jelas dari luar.
Paling tidak kini daerah kemaluanku tertutup setelah sebulan lebih tidak
ditutupi sehelai benang pun, pikirku dalam hati.

Namun ternyata celana dalam itu
mendatangkan masalah baru bagiku. Keesokan harinya, ketika aku sedang
mencuci piring di dapur, Nyonya menyelinap ke belakangku, lalu menarik
bagian depan celana dalamku dan memasukkan dua buah vibrator yang
berbentuk seperti peluru kecil ke dalamnya. Nyonya kemudian menyelipkan
tangannya ke dalam CDku, lalu memposisikan vibrator tadi ke dalam
vaginaku. Dengan menggunakan sebuah remote control, Nyonya menyalakan
vibrator itu hingga bergetar di dalam vaginaku.

“Ssssshhh..ahhh j-jangannn…� Getaran itu
memberikan ransangan yang membangkitkan gairahku. Ingin rasanya aku
menikmati ransangan tersebut, namun karena aku harus tetap melakukan
pekerjaan rumah dalam keadaan terangsang seperti itu, kenikmatan
tersebut malah berubah jadi penderitaan bagiku. Aku harus menahan gairah
supaya cairan kewanitaanku tidak membasahi celana dalam.

Hampir setiap hari Nyonya menyiksaku
dengan cara seperti itu, bahkan kadang-kadang beliau memasukkan 3 hingga
4 vibrator kecil ke dalam vaginaku atau lubang pantatku. Untuk menambah
penderitaaku, seringkali Nyonya menjepitkan beberapa penjepit baju yang
terbuat dari kayu di puting susuku dan area sekitarnya, kadang-kadang
juga di bibir vaginaku. Dalam keadaan seperti itu aku tetap harus
menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah yang dipaksakan kepadaku. Ketika
suatu saat aku ketahuan mengeluarkan vibrator dan jepitan itu dari dalam
vaginaku, Nyonya menyuruhku untuk berdiri menghadap tembok dan
menempelkan seluruh tubuhku ke tembok itu. Kemudian Nyonya memeloroti
celana dalamku hingga ke paha, sehingga pantatku terpampang di hadapan
Nyonya. Setelah itu, beliau memukuli pantatku dengan talenan yang
terbuat dari kayu, sehingga kedua bongkahan daging itu menjadi merah
padam. Tangisanku yang kesakitan nampaknya menjadi musik yang merdu bagi
telinga Nyonya yang masochist itu, membuatnya ingin menyiksa diriku
lebih lagi setiap harinya.

Segala penyiksaan dan perlakuan kejam
yang aku terima membuat satu tahun di rumah itu terasa sangat lama.
Lebih tepatnya sebelas bulan aku terkurung di tempat yang mungkin lebih
kejam dari neraka itu. Nyonya selalu menemukan cara-cara baru untuk
menyakiti tubuhku. Mulai dari ikat pinggang berujung logam sampai rotan
kasar telah menorehkan garis-garis merah di sekujur tubuhku. Memang luka
tersebut dapat hilang, namun rasa trauma di batinku nampaknya akan
selalu membekas. Ditambah perlakuan dari Tuan yang maniak seks. Tidak
hanya aku harus melayani pria tua itu, kadang-kadang aku juga harus
melayani teman-temannya yang tidak kalah menyebalkan. Karena dilarang
untuk memperkosa vaginaku, mereka mengeksploitasi lubang pantat, mulut,
belahan dada, atau bagian tubuh manapun yang dapat mereka nikmati.
Selain penis-penis yang menjijikan, mereka juga memasukkan barang-barang
lain ke vagina dan anusku, mulai dari mentimun, tongkat kayu, hingga
paku panas.

Namun satu hal yang membuatku bertahan
tidak lain adalah Axel. Ada yang berbeda dengan caranya membelai tubuhku
dengan lembut, mengecup keningku dengan mesra, serta mengusap luka-luka
di tubuhku dengan halus. Ia sangat tahu bagaimana cara meluluhkan hati
seorang wanita yang hancur sepertiku. Walaupun tindakan-tindakan baik
itu dilanjutkan dengan adegan di mana aku harus melayani hasrat seksnya,
aku sama sekali tidak keberatan. Lagipula ia melakukannya dengan cukup
halus dan “menyenangkan�. Semakin Axel memikat hatiku, semakin dalam aku
terjebak dalam dilema. Apakah aku benar-benar mencintai orang yang
seharusnya jadi musuhku ini? Mengapa seolah Axel dapat memberikan apa
yang selama ini tidak aku dapatkan dari pacarku? Apakah Axel benar-benar
menyayangiku, atau ia hanya ingin menikmati tubuhku sama seperti
orang-orang lain?

Lamunanku buyar saat pintu basement itu
dibuka dengan keras oleh Tuan & Nyonya. Saat itu masih pagi sekali,
tanggal 14 Februari. Tepat satu tahun semenjak aku meninggalkan
kehidupan lamaku.

“Selamat hari Valentine, cantik,� ujar
Tuan, dengan nada yang memuakkan seperti biasanya. Ia membawa sebuah
kardus yang diikat dengan pita, layaknya sebuah kado. Aku segera membuka
“kado� itu setelah diperintahkan. Ternyata isinya adalah lilin-lilin
besar berwarna merah, dengan diameter sekitar 5 cm. Seolah tahu bahwa
aku akan segera menghindar, Tuan & Nyonya cepat-cepat meraih tangan
dan kakiku, lalu mengikatnya ke empat sudut ranjang besi tempatku duduk.
Kini tubuhku terentang menyerupai huruf X, posisi yang sangat ideal
untuk dianiaya. Tidak lupa mereka memeloroti celana dalamku yang lusuh
itu.

“Kamu tahu kan kalau Valentine identik
dengan lilin?� ujar Tuan sambil menyalakan salah satu lilin itu dengan
korek, lalu menunggu beberapa saat sampai lilin itu mulai cair.
Mengetahui bahwa usahaku untuk bangun akan sia-sia, aku hanya menarik
nafas panjang, bersiap untuk kembali disakiti, seperti yang sudah-sudah.

“Aaaaakkhhh panasss!� teriakku saat
tetesan lilin pertama jatuh tepat di atas puting susuku yang sebelah
kanan. Dilanjutkan dengan beberapa tetes di puting susu sebelah kiri,
kali ini dari tangan Nyonya. Aku hanya dapat menggeliat-geliat seperti
cacing (yang memang) kepanasan untuk menahan rasa sakit itu. Rasa
sakitnya semakin parah saat lilin itu menetes di bekas-bekas luka
cambukan dan pukulan sebelumnya. Namun yang paling parah adalah saat
selangkanganku menjadi arena permainan mereka. Lilin itu menetes di
bibir vaginaku, mengalir masuk ke dalam liang kemaluanku yang sengaja
direkahkan oleh Nyonya. Sangkaku penyiksaan ini tidak dapat lebih sakit
dari itu, namun ternyata dugaanku salah saat Tuan menancapkan lilin itu
dalam-dalam ke lubang vaginaku. Diameter lilin yang cukup lebar itu
menyesakkan vaginaku yang nampak tidak muat untuk dimasuki benda sebesar
itu. Ditambah dengan panasnya batang lilin itu, vaginaku merasakan
penderitaan yang tak terkira. Mereka membiarkan lelehan lilin itu
mengalir dan melekat di dinding vaginaku, sementara mereka kembali
menetesi payudaraku dengan lilin lainnya. Setelah jumlah tetesan itu
cukup banyak, mereka menempatkan sebatang lilin di atas masing-masing
payudaraku, serta membiarkan lelehannya memenuhi gundukan payudaraku
sampai ke perut.

“Sekarang kita punya chandelier yang
bagus nih. Ayo kita nikmati Valentine dinner, eh breakfast kita, Ma!�
kata Tuan. Ia benar-benar gila. Mereka benar-benar gila. Kini mereka
menikmati sarapan dengan diterangi lilin-lilin yang menancap di vaginaku
dan di atas payudaraku, sementara aku terus merintih kesakitan akibat
panasnya lelehan lilin-lilin itu. Luar biasanya, mereka membiarkanku
dalam keadaan seperti itu sampai mereka meninggalkan basement. Bagaimana
bila lilin itu habis dan membakar vagina dan dadaku?

Sebelum hal itu terjadi, Axel turun ke
ruangan nahas itu sambil membawa kado lainnya. Palingan sex toys
lainnya, pikirku dalam hati. Axel lalu menghampiriku, lalu meniup semua
lilin itu dan mengangkatnya dari tubuhku.

“Thanks ya Axel,� ujarku lirih.
“Jangan terima kasih dulu, kamu belum buka kadonya kan.�

Setelah Axel melepaskan ikatan-ikatanku,
segera kubuka kado dari Axel. Di luar dugaanku, ternyata isinya jauh
dari yang kubayangkan. Kotak itu berisi kaos, celana legging, pakaian
dalam, dan jaket hoodie.

“Ini buat apa?� tanyaku, seorang gadis yang sebagian besar bugil selama setahun terakhir.
“Cepat kamu pakai ini. Mumpung Ayah & Ibu sedang keluar belanja.�

Dengan muka bingung, aku bangkit dan
membersihkan bekas lilin di tubuhku seadanya. Vaginaku masih terasa
sangat perih saat pahaku bergerak.

“Jujur, kamu lebih cantik kalau pake
baju,� ujar Axel setelah aku mengenakan pakaian yang diberikannya. Aku
tersenyum kecil, namun pikiranku masih dipenuhi dengan tanda tanya,
sampai Axel akhirnya menjelaskan semuanya.
“Kamu bikin aku jatuh cinta beneran, Catherine. Dan aku gak bisa
biarinin orang yang aku sayang terus menerus disakiti oleh orang-orang
gila. Sekarang, tutupi kepala kamu dengan hoodie-nya biar aman, kita
pergi dari sini.�
“Bagaimana kalau Tuan & Nyonya tahu?�
“Gak usah kuatir, Catherine. Aku yang tanggung jawab. Entah gimana caranya.�

Kami berdua lalu masuk ke dalam mobil,
kemudian Axel menyetir mobil itu menyusuri jalan-jalan yang tidak pernah
aku ketahui. Lebih tepatnya aku memang sama sekali tidak mengetahui
keadaan di luar rumah itu. Perasaan campur aduk memenuhi batinku. Yang
pasti, aku merasa luar biasa bahagia setelah terbebas dari perbudakan
yang kejam itu. Ternyata masih ada yang menjawab doa-doaku. Namun yang
membuatku lebih bahagia adalah mengetahui bahwa Axel benar-benar
mencintaiku, bukan sebagai budaknya, namun layaknya wanita yang
seharusnya diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Bahkan dengan keadaan
tubuhku yang tidak lagi mulus, serta lubang pantatku yang bentuknya tak
karuan. Entah ke mana ia membawaku pergi, aku merasa lebih aman saat ia
di sisiku.

“Satu lagi, Catherine. Happy Valentine, dear!�
“Happy Valentine’s day too! I.. I.. love you…�